5 Kebiasaan Hemat Warren Buffett yang Bisa Ditiru

JAKARTA,
Warren Buffett, seorang investor ternama dan salah satu orang terkaya di dunia, telah mengumpulkan kekayaannya melalui investasi yang cerdas selama beberapa dekade. Awalnya, ia membangun kekayaan ini dengan kebiasaan keuangan yang disiplin. Yang membuat Buffett sangat luar biasa bukan hanya ketajaman dalam berinvestasi, tetapi juga komitmennya untuk hidup hemat meskipun memiliki kekayaan yang sangat besar.

Banyak miliarder cenderung menikmati rumah mewah, jet pribadi, dan gaya hidup mewah. Namun, Buffett tetap mempertahankan kebiasaan belanja sederhana yang sama sejak awal. Filosofi hidup hematnya bukanlah tindakan yang tidak disengaja atau pelit, melainkan strategi yang direncanakan agar uang bisa dialihkan ke investasi yang membentuk kekayaannya, bukan digunakan untuk aset yang mengalami depresiasi atau inflasi gaya hidup.

Pendekatannya menunjukkan bahwa membangun kekayaan sering kali tidak dimulai dari mendapatkan jumlah besar, tetapi lebih pada menghindari kerugian finansial dan membuat keputusan pengeluaran yang bijak. Berikut adalah beberapa kebiasaan frugal living Warren Buffett yang patut ditiru:

1. Tinggal di rumah yang sama selama puluhan tahun

Buffett membeli rumahnya di Omaha, Nebraska, pada tahun 1958 dengan harga 31.500 dolar AS. Ia tinggal di sana selama lebih dari 60 tahun. Investasi sederhana ini kini bernilai sekitar 1 juta dolar AS. Meski demikian, Buffett menyatakan bahwa ia tidak bermaksud pindah. Ia bahkan menyebutnya sebagai "investasi terbaik ketiga" dalam surat tahun 2010 kepada pemegang saham Berkshire Hathaway.

Pendekatan ini bertentangan dengan cara berpikir konvensional yang menganggap rumah sebagai simbol status. Buffett menunjukkan kebijaksanaan finansial dengan tetap bertahan. Bagi pemilik rumah umumnya, prinsip ini berarti memilih rumah yang bisa dibeli dengan nyaman dalam jangka panjang, bukan membeli rumah semaksimal mungkin.

2. Beli mobil bekas ketimbang mobil baru

Buffett memahami bahwa mobil adalah aset yang terdepresiasi. Ia memilih mobil bekas dan mempertahankannya selama bertahun-tahun. Menurut data industri otomotif, kendaraan baru biasanya kehilangan 20 persen nilainya di tahun pertama. Buffett menghindari kerugian ini dengan membeli mobil bekas dan menjaganya selama waktu yang lama.

Ia jarang membeli mobil baru karena jarak tempuhnya hanya sekitar 3.500 mil per tahun. Pendekatan ini menantang tekanan budaya yang memandang mobil sebagai simbol status. Bagi kebanyakan orang, menghitung jarak tempuh tahunan dapat menentukan apakah pembelian mobil baru masuk akal secara finansial. Dengan membeli mobil bekas, Buffett menghemat uang dari depresiasi mobil baru.

Biaya asuransi juga lebih rendah untuk kendaraan yang lebih tua, memberikan penghematan tambahan. Kunci dari pendekatan ini adalah memperlakukan kendaraan sebagai alat fungsional daripada pernyataan gaya hidup.

3. Makan makanan sederhana dan murah

Meski memiliki kekayaan yang besar, Buffett mempertahankan kebiasaan makan yang sangat sederhana. Ia sering makan di McDonald's dan membatasi biaya sarapan hingga 3,17 dolar AS. Ia juga masih menggunakan kupon diskon, meskipun sudah sangat kaya.

Bill Gates pernah bercerita tentang sebuah kejadian lucu ketika Buffett mentraktirnya ke McDonald's dan mencoba membayar dengan kupon. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa berhemat bukanlah tentang jumlah uang yang dihemat, tetapi tentang mempertahankan pola pengeluaran disiplin yang bertambah seiring waktu.

Tujuannya bukanlah berhemat secara ekstrem, tetapi pengeluaran yang sadar, memprioritaskan nutrisi dan nilai daripada kenyamanan dan status.

4. Hilangkan utang berbunga tinggi sebelum investasi apapun

Buffett memiliki sikap tegas terhadap utang berbunga tinggi. Ia percaya bahwa jika meminjam uang dengan bunga 18 atau 20 persen, maka akan bangkrut. Ia menekankan bahwa melunasi utang berbunga tinggi harus menjadi prioritas, bukan strategi investasi apa pun.

5. Menabung dulu, baru menggunakan uang setelahnya

Filosofi keuangan Buffett dapat diringkas dalam nasihatnya: "Jangan simpan apa yang tersisa setelah pengeluaran, tetapi belanjakan apa yang tersisa setelah menabung." Pendekatan ini membalikkan pola umum menabung apa pun yang tersisa setelah pengeluaran, alih-alih memprioritaskan pembangunan kekayaan sejak awal.

Metodologi "bayar diri Anda terlebih dahulu" ini memastikan bahwa pembangunan kekayaan terjadi secara konsisten. Baik menggunakan alokasi berbasis persentase atau jumlah tetap, kuncinya adalah membuat tabungan otomatis dan memprioritaskan tujuan keuangan jangka panjang daripada keinginan membeli langsung.

Kebiasaan berhemat Buffett menunjukkan bahwa membangun kekayaan membutuhkan pengambilan keputusan yang disengaja. Kebiasaan-kebiasaan ini bukan tentang kekurangan, namun tentang mengarahkan uang untuk menghargai aset daripada mengurangi pengeluaran. Efek gabungan dari keputusan-keputusan kecil ini menciptakan perbedaan besar dari waktu ke waktu. Setiap pengeluaran yang tidak perlu yang dihindari merupakan modal yang dapat diinvestasikan dan tumbuh secara eksponensial. Kuncinya adalah memulai dengan satu atau dua kebiasaan dan membangun momentum secara bertahap.

Lebih baru Lebih lama