Deddy Mizwar Konsisten Hadirkan Sinetron Ramadan yang Menghibur dan Berisi

Pengalaman Wawancara dengan Deddy Mizwar

Di kantor production house milik Deddy Mizwar di bilangan Jakarta Timur, saya merasa senang bisa berbincang langsung dengan sosok legenda dalam industri hiburan. Ruangan yang tidak terlalu besar ini dipenuhi pajangan penghargaan yang menjadi saksi perjalanan karier Deddy Mizwar selama bertahun-tahun. Berjalan di sekitar ruangan ini seperti menyusuri jejak pencapaian sang aktor yang telah mengukir nama dalam dunia perfilman Indonesia.

Wawancara kami dimulai sekitar pukul 19.15 WIB, setelah buka puasa. Suasana terasa santai dan hangat karena Deddy Mizwar banyak melemparkan candaan yang membuat suasana semakin akrab. Dalam kesempatan ini, kami membahas tentang konsistensi Pak Haji dalam memproduksi sinetron Ramadan dari tahun ke tahun. Ia menegaskan bahwa fokus utamanya adalah menghadirkan konten syiar agama dengan cara yang menarik dan menghibur.

Nilai Religius Jadi Alasan Utama

Deddy Mizwar begitu konsisten dalam memproduksi sinetron Ramadan karena identik dengan nilai-nilai religius. Menurutnya, Ramadan merupakan momen yang tepat untuk menyampaikan nilai-nilai tersebut lewat sinetron. Tahun ini, ia memproduksi dua sinetron Ramadan, yaitu Para Pencari Tuhan Jilid 19 dan Lorong Waktu 2. Sesuai dengan visi yang ia jaga sejak awal, kedua sinetron tersebut tetap digarap dengan nilai-nilai religius, meski konsep dan format ceritanya berbeda.

“Kalau PPT, diangkat dari fenomena sosial yang ada di masyarakat, sementara Lorong Waktu waktu, ya fiksi. Yang kali ini PPT kan bukan cerita anak-anak, tapi ceritanya tentang masalah anak-anak. Nah, kalau Lorong Waktu, memang itu dunia anak-anak,” lanjutnya.

Isu Sosial yang Diangkat Harus Merefleksikan Kondisi Masyarakat

Berbicara mengenai karya-karya Deddy Mizwar nyaris tak pernah lepas dari isu sosial. Sejak awal kariernya hingga kini, ia konsisten menjadikan realitas masyarakat sebagai napas utama dalam setiap karyanya, terutama lewat sinetron Para Pencari Tuhan. Bagi Deddy Mizwar, setiap peristiwa yang sedang terjadi di masyarakat perlu direfleksikan ke dalam karya agar penonton merasa dekat dan terwakili.

“Dari fenomena sosial yang ada pada saat itu. Itu yang harus kita refleksikan, supaya penonton merasa relate dengan keadaannya dan terwakilkan.”

Aktor, sutradara, dan produser berusia 70 tahun tersebut menjelaskan bahwa proses merefleksikan fenomena sosial sebagai ide cerita sinetron Para Pencari Tuhan pun gak sesederhana yang dibayangkan. Ia dan timnya harus melakukan riset hingga diskusi yang panjang agar tidak ada pihak-pihak tertentu yang merasa tersakiti.

Pastikan Tetap Dikemas dengan Cara yang Menarik dan Menghibur

Walaupun mengandung nilai-nilai religius dan mengangkat isu sosial, Deddy Mizwar tetap memastikan bahwa karyanya disampaikan dengan cara yang menarik sehingga penonton tidak hanya memeroleh pesan yang bermakna, tetapi juga merasa terhibur. “Kalau mau nonton yang semuanya unsur agama, ya nonton aja ceramahan. Tapi kan ini bukan ceramahan. Ini tontonan, mesti ada unsur cerita yang kuat, karakter yang kuat. Tapi unsur agama tetap harus ada, karena setiap langkah kita memang dipengaruhi oleh nilai-nilai agama,” lanjutnya.

Deddy Mizwar kemudian menjelaskan bahwa setiap karyanya memiliki porsi komedi yang berbeda. Ada yang lebih menonjolkan unsur kelucuan serta ada juga yang lebih menekankan pada cara menyampaikan pesan agama secara menarik dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Nah, dalam wawancara yang berlangsung selama kurang lebih 40 menit tersebut, saya juga bertanya soal rating. Menurutnya, tidak ada tekanan rating yang memengaruhi idealismenya dalam berkarya. “Masalah rating itu bukan urusan kita. Itu kan urusan pabrik survei. Jadi gak ada tekanan.” Ia menegaskan bahwa fokus utamanya hanya menciptakan sinetron Ramadan yang memuat nilai-nilai religius dan isu sosial, tapi tetap dikemas secara menarik agar penonton merasa terhibur sekaligus mendapatkan pesan yang bermakna.

Lebih baru Lebih lama