Teater Berhantu: Pengalaman Horor yang Menggugah Indra
Eclipse Studios, sebuah rumah produksi asal Singapura, kembali menghadirkan pertunjukan teater horor bertajuk "Berhantu" di Indonesia. Pertunjukan ini menjadi yang ketiga kalinya Eclipse Studios menampilkan karya mereka di Tanah Air setelah sebelumnya sukses dengan dua teater imersif lainnya.
Teater Berhantu digelar di Krapela, Row 9, Blok M, Jakarta Selatan. Pementasan perdana berlangsung pada Jumat malam, 27 Februari 2026. Acara serupa juga akan disajikan pada 28 Februari serta 4 dan 5 Maret mendatang. Ini menjadi pengalaman baru bagi penonton yang ingin merasakan sensasi horor yang lebih intens dan realistis.
Pertunjukan ini diciptakan oleh aktor Singapura Hafidz Abdul Rahman. Naskah yang digunakan berasal dari cerita "Cherita Hantu" yang telah sukses dalam lima musim di Singapura. Di Indonesia, naskah tersebut diadaptasi oleh sutradara Giovanni Harris. Ia memadukan kisah hantu orisinil Singapura dengan cerita lokal Indonesia untuk menciptakan pengalaman yang lebih relevan bagi penonton lokal.
Giovanni Harris menjelaskan bahwa tujuan dari Teater Berhantu adalah memberikan pengalaman menonton yang berbeda. "Kami ingin seluruh indra penonton terlibat," ujarnya. Ia juga menekankan bahwa teater ini dirancang agar bisa menjadi hiburan alternatif di bulan Ramadan, sebagai tontonan segar usai beribadah puasa.
Suasana Mencekam yang Menyentuh Indra
Saat masuk ke ruang pentas, penonton langsung disambut dengan semerbak aroma dupa yang menyengat. Lantunan tahlil terdengar sayup-sayup di tengah cahaya remang-remang. Tampak sebuah jenazah yang dibungkus kafan dan kain jarik tergeletak di tengah ruangan. Penonton duduk lesehan mengelilingi sang mayit dan diberikan buku Yasin tiruan yang bertuliskan identitas almarhumah Suryanti binti Tenku Wijaya.
Saat semua lampu padam dan hanya tersisa sedikit pencahayaan, jenazah tiba-tiba bangkit. Teriakan penonton menandai dimulainya pementasan. Suasana mencekam mulai memunculkan rasa takut dan ketegangan yang luar biasa.

Rumah produksi asal Singapura, Eclipse Studios, menampilkan Teater Berhantu di Krapela, Row 9, Blok M, Jakarta Selatan, 27 Februari 2026. Tempo/Savero Aristia Wienanto
Dua Lakon dalam Satu Pentas
Teater Berhantu menggabungkan dua cerita berbeda dalam satu pertunjukan. Cerita pertama mengisahkan Putri, diperankan Dwynna Win, yang mengalami gangguan jiwa akibat kematian ibunya. Ia mencoba mengobati penyakit mentalnya dengan berkonsultasi kepada terapis yang diperankan Bukie B. Mansyur. Namun, arwah ibunya yang gentayangan mengganggu proses pengobatannya.
Cerita kedua mengisahkan Hanif, diperankan Atilla Syah, yang harus kehilangan ibunya. Setelah sang ibu wafat, Aqil, anak bungsu Hanif yang diperankan Bukie B. Mansyur, meminta jatah warisan. Aqil bersama istri, Annisa yang diperankan Dwynna Win, mendesak Hanif untuk menjual rumah. Arwah ibu Hanif pun menghantui Aqil dan Annisa.
Giovanni Harris menjelaskan bahwa Teater Berhantu ingin membawa kisah tentang ibu dalam kedua lakon tersebut. Ia memilih kisah gangguan mental dan perebutan warisan karena dianggap relevan dengan kehidupan penonton Indonesia. "Kami ingin membawa cerita yang dekat dengan penonton," katanya.
Persiapan Mendadak dan Pengalaman Baru
Persiapan Teater Berhantu berlangsung mendadak. Giovanni baru menerima naskah dari Hafidz Abdul Rahman pada 20 Februari 2026. Latihan yang dilakukan sangat singkat, tetapi para pemain tetap berusaha memaksimalkan kemampuan mereka.
Aktris Dwynna Win mengaku bahwa ia membutuhkan waktu selama tiga hari untuk mendalami perannya. Ini merupakan pengalaman pertamanya dalam teater horor. "Aku harus belajar gerak tubuh orang kerasukan," ujarnya. Ia juga berlatih adegan kesurupan yang menjadi tantangan tersendiri baginya.
Dengan kombinasi suasana mencekam dan cerita yang dekat dengan kehidupan nyata, Teater Berhantu menawarkan pengalaman yang tidak biasa bagi penonton. Pementasan ini tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga mengajak penonton untuk merenungkan makna dari kisah-kisah yang disampaikan.