Perjalanan Masjid Al-Fajri: Dari Betawi ke Utsmani

Sejarah dan Perkembangan Masjid Al-Fajri yang Megah

Masjid Al-Fajri, sebuah bangunan megah berukuran 1000 meter persegi dengan arsitektur bergaya Ottoman tradisional atau era Turki Utsmani, mencuri perhatian setiap orang yang melihatnya. Nama masjid ini diberikan karena niatnya untuk meniru semirip mungkin dengan Blue Mosque di Istanbul, Turki. Berdiri di tanah seluas 1.625 meter persegi dan dekat dengan permukiman warga, Masjid Al-Fajri seolah menjadi anomali yang begitu sedap dipandang.

Bangunan kubus dengan kubah bertingkat, satu menara yang menjulang tinggi, dan warna abu alami yang mengitarinya menjadi daya magis tersendiri bagi tiap orang yang melewatinya. Sulit untuk tidak mampir ke Masjid Al-Fajri jika sudah melihatnya dari jarak yang cukup jauh, terletak di Jalan Al Fajri, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Saat memasuki masjid ini, dua pintu besar berwarna biru dengan ukiran khas keislaman menyambut. Membuat kesan mewah sesaat sebelum dibuat takjub dengan megahnya bagian dalam Masjid Al-Fajri. Selain kubah yang menjulang tinggi, ornamen dan kaligrafi menghias penuh di langit-langit tempat bersujud. Hampir sama persis dengan kubah fenomenal di Blue Mosque.

"Sejak awal memang dirancang buat sama dengan Blue Mosque. Semua ornamen, kaligrafinya, kita tiru sebisa mungkin," kata Ketua DKM Masjid Al-Fajri, Tatang Hidayat.

Saking niatnya meniru, pengurus Masjid Al-Fajri saat itu bahkan survei dan melakukan riset secara langsung ke Blue Mosque di Istanbul. "Kita di sana sampai sepuluh hari meriset agar bisa diterapkan di masjid ini," tutur Tatang. Namun begitu, ia menegaskan bahwa bangunan ini tetap dipimpin langsung oleh jemaah Masjid Al-Fajri yang merupakan arsitek lulusan Universitas Indonesia.

"Filosofisnya ya kita mengingatkan semangat juang dakwah Islam yang Blue Mosque sendiri jadi momen bersejarah Islam masuk ke Eropa," ungkap Tatang.

Sejarah Pembangunan Masjid Al-Fajri

Perjalanan pembangunan Masjid Al-Fajri yang kini dikenal megah dengan menghabiskan anggaran hingga Rp 33 miliar ini sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari jejak panjang kebersamaan warga Kampung Kerobokan yang kini masuk wilayah Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Masjid ini berdiri di atas tanah wakaf seluas kurang lebih 1.625 meter persegi, dengan sertifikat wakaf Nomor 931/W/1994 atas nama Idrus bin Husen. Sejak awal, tanah tersebut diamanahkan untuk kepentingan ibadah dan kemaslahatan umat.

Tatang menyebut, cikal bakal masjid ini bermula dari sebuah langgar sederhana yang dikenal dengan sebutan “Langgar Ki Ojen” pada tahun 1942. Lokasinya berada di dekat sumber air jernih yang disebut “Empang Batu”, berdampingan dengan lahan milik keluarga Al-Haddad. Dari tempat ibadah kecil itulah denyut kehidupan keislaman masyarakat setempat mulai tumbuh dan berkembang.

Seiring waktu, melalui putranya Habib Idrus bin Husen sebagai ahli waris, lahan tersebut secara resmi diwakafkan untuk warga Kampung Kerobokan. Atas persetujuan para ulama setempat, termasuk KH Muhammad Amin dan diteruskan oleh KH Zayadi Amin (Guru Yadi), dibangunlah masjid yang kemudian dikenal sebagai Masjid Jami' Al-Fajri.

Adapun pembangunan masjid dimulai pada 1947 dan rampung pada 1958. Prosesnya dilakukan secara swadaya oleh masyarakat, dipelopori tokoh-tokoh seperti Aseni bin Ismail, Bentong, Sa’ari, dan Bi’ih bin Ja’ih. Konsultan ahli saat itu adalah Habib Muhammad bin Husen bin Ja’far Al-Haddad.

Pada masanya, bangunan Masjid Jami’ Al-Fajri memang sudah terbilang megah. Kaca bakar atau kaca timah di bagian depan bahkan diimpor langsung dari Arab Saudi atas inisiatif Habib Idrus bin Husen yang saat itu bermukim di sana. Namun, mulanya gaya arsitektur Masjid ini kental dengan ornamen klasik bernuansa budaya Betawi.

Memasuki periode berikutnya, masjid Al-Fajri terus mengalami pembenahan. Pada 1965 dilakukan renovasi tanpa mengubah konstruksi utama. Namun pada 1972, salah satu kubah masjid tersambar petir hingga hancur. Peristiwa itu menjadi titik balik untuk melakukan pemugaran total.

Renovasi besar dimulai pada 1972 dan rampung pada 1978, di bawah kepemimpinan H. Abdul Karim (Tjung Njuk Thian) sebagai ketua panitia. Proses pembangunan diawasi oleh arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung, Ir. H. Erry. Masjid diperluas, pondasi menara dibangun, namun tetap menjaga identitas arsitektur sebelumnya yang khas Betawi.

Perkembangan terus berlanjut. Pada 25 Oktober 1993, dilakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung serbaguna yang rampung pada Januari 1996. Kepanitiaan saat itu dipimpin H. Abdul Rosyid bin H. Junaidi bersama jajaran pengurus lainnya.

Tahun 2002, masjid kembali direnovasi dengan anggaran lebih dari Rp 139 juta. Lalu pada 11 Januari 2008, dilakukan peletakan batu pertama pembangunan menara setinggi 41 meter. Pembangunan ini menjadi simbol semangat baru jamaah dalam memperkuat fungsi masjid sebagai pusat ibadah dan kegiatan sosial.

Pada 30 September 2013, atas arahan KH Abdul Hamid Husen, dilakukan pembebasan lahan tambahan seluas kurang lebih 135 meter persegi di Jalan Masjid Al Fajri, Pejaten Barat. Langkah ini menjadi bagian dari rencana pengembangan jangka panjang masjid.

Era Arsitektur Utsmani: 2017

Memasuki generasi kelima, semangat pembaruan semakin terasa. Terinspirasi dari peradaban Islam abad ke-18 pada masa Khilafah Utsmaniyah di Istanbul, Turki, pengurus masjid menggagas pembangunan dengan gaya arsitektur Utsmani. Salah satu referensinya adalah kemegahan Blue Mosque.

Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Jami’ Al-Fajri bergaya arsitektur Utsmani dilaksanakan pada Sabtu, 25 Maret 2017, bertepatan dengan 26 Jumadil Akhir 1438 H. Pembangunan ini diprakarsai oleh KH Abdul Hamid Husen bin KH Abdul Ghofur selaku Ketua DKM periode 1996–2023, dengan dukungan para ulama, tokoh masyarakat, serta Wali Kota Jakarta Selatan saat itu.

Kini, Masjid Jami’ Al-Fajri bukan sekadar tempat ibadah. Ia menjadi simbol kebersamaan, keistiqamahan, dan perjalanan panjang masyarakat Pejaten Barat dalam menjaga warisan wakaf dan merawat peradaban Islam dari generasi ke generasi.

Hingga saat ini, Tatang mengatakan bahwa pembangunan Masjid Al-Fajri dengan gaya arsitektur Ottoman sebenarnya masih belum sepenuhnya rampung. Masih dibutuhkan sejumlah anggaran untuk membereskan bagian lain dari masjid.

"Mungkin sekarang ini masuknya sudah 75 persen. Berkat bantuan dari para jemaah hingga instansi maupun influencer yang membantu pembangunan masjid ini," ungkapnya.

Dengan anggaran puluhan miliar yang tergelontorkan itu, Tatang menggaku bahwa geliat jemaah yang datang ke Masjid Al-Fajri semakin membuncah.

"Di waktu Ramadhan gini yang dateng banyak juga yang sengaja dari luar kota. Sampai sekarang kita udah catat ada ribuan tamu yang datang ke Masjid Al-Fajri," pungkasnya.

Lebih baru Lebih lama