
Dedikasi Luna Maya dalam Memainkan Peran Suzanna
Luna Maya kembali menunjukkan komitmen tinggi dalam proyek film terbarunya, Suzanna: Santet Dosa di Atas Dosa. Film ini mengangkat kisah legendaris Suzanna, sosok ikonik dalam dunia perfilman Indonesia. Untuk mempersembahkan karakter tersebut dengan sempurna, ia menjalani transformasi fisik yang luar biasa, termasuk berbagai tantangan ekstrem selama proses syuting.
Proses Makeup yang Menantang
Salah satu hal paling menyulitkan yang dihadapi Luna adalah proses makeup prostetik yang dilakukan setiap hari hingga 4–5 jam. Ia harus duduk berjam-jam untuk memasang prostetik pada bagian wajah seperti dahi, pipi, dagu, dan area bawah mata. Setiap detail diperhatikan agar tampilan karakter terlihat autentik dan sesuai dengan gambaran Suzanna.
Ia menjelaskan bahwa sedikit kesalahan dalam pemasangan dapat mengubah ekspresi wajah secara signifikan di layar. Proses ini sering kali membuat kulitnya mengalami iritasi, perih, dan kemerahan akibat penggunaan lem khusus serta alkohol saat pemasangan maupun pelepasan prostetik.
Rasa Sakit Saat Melepas Prostetik
Proses melepas prostetik justru lebih menyiksa dibanding pemasangannya. Lem yang menempel kuat di kulit membuat bagian wajah terasa seperti tertarik, bahkan meninggalkan sensasi nyeri. Ia menyebut, jika keesokan harinya harus kembali memasang prostetik di area yang sama, rasa perih masih terasa meski sudah beristirahat. Namun demi profesionalitas dan kecintaan terhadap dunia akting, ia tetap menjalani semua proses tersebut tanpa mengeluh.
Adegan Sungai yang Membahayakan
Pengalaman paling menegangkan terjadi saat Luna menjalani adegan ekstrem di sungai tanpa menggunakan pemeran pengganti. Dengan kostum berat, wig tebal, serta prostetik yang menutup sebagian wajah, ia harus berakting hanyut mengikuti aliran air. Tak disangka, arus sungai yang tampak tenang ternyata memiliki pusaran di bagian bawah air terjun kecil. Luna sempat terseret arus dan tergulung di dalam air sekitar setengah menit. Ia mengungkapkan bahwa situasi itu sangat berbahaya, karena jika pakaiannya tersangkut batu, kemungkinan buruk bisa terjadi.
Tantangan dalam Adegan Air
Adegan air menjadi tantangan terberat bagi Luna. Selain beratnya kostum yang menyerap air, wig yang dipakai juga membuat tubuhnya semakin berat saat basah. Proses produksi bahkan harus memperhitungkan risiko prostetik terlepas di dalam air. Tim makeup bekerja ekstra hati-hati agar riasan tetap aman meski terkena air dan adegan ekstrem.
Tetap Profesional Meski Menyiksa
Ia menegaskan bahwa film adalah kerja kolektif. Tidak ada satu pihak yang lebih penting dari yang lain, semua bekerja untuk menghasilkan tontonan yang menghibur dan bermakna. Bagi Luna, totalitas bukan hanya tentang penampilan di layar, tetapi juga komitmen terhadap karya dan penghargaan kepada penonton. Ia berharap film ini bisa memberikan pengalaman horor yang berkesan sekaligus menunjukkan kualitas akting yang maksimal.
Menghormati Legenda
Dalam kesempatan yang sama, Luna juga menegaskan bahwa dirinya tidak pernah berniat menggantikan sosok Suzanna. Ia menyebut Suzanna sebagai ikon sinema Indonesia yang tak tergantikan. Baginya, proyek ini adalah upaya melanjutkan legacy, bukan mengambil alih posisi sang legenda.