Proses Pembuatan Film Surat Untuk Masa Mudaku yang Unik dan Menyentuh
Film Surat Untuk Masa Mudaku (2026) berhasil menyentuh hati penonton dengan alur cerita yang sederhana namun penuh makna. Selain itu, akting para aktor muda juga dianggap sangat totalitas, terutama dari para pemain yang berasal dari Panti Asuhan Pelita Kasih. Di balik keberhasilan tersebut, ada kisah menarik mengenai proses pembuatan film ini.
1. Tanpa Bantuan Acting Coach, Sim F Berusaha Membangun Kepercayaan dengan Para Pemain
Salah satu hal unik dalam proses produksi film ini adalah tidak adanya bantuan dari acting coach. Meski biasanya acting coach berperan penting dalam membantu aktor memahami karakter mereka, Sim F, sang sutradara, memilih untuk mendekati para pemain secara langsung. Ia meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan para pemain, seperti jalan-jalan bersama, membaca skrip, dan berdiskusi tentang karakter masing-masing.
"Kita hanya sekali saja melakukan pemanasan. Pernah kita dua sampai tiga hari untuk pemasanan mereka yang belum pernah acting. Paling gak dapat bekal dikit lah. Sisanya lebih aku sama mereka, sih. Reading, baca, terus habis itu ngobrol," ujar Sim F dalam wawancara virtual via zoom.
Proses ini membantu membangun kepercayaan antara Sim F dan para pemain. Dengan kepercayaan yang terjalin, ia bisa lebih mudah menyampaikan apa yang ingin ia lihat dari para aktor. Selain itu, para pemain juga lebih percaya pada arahan yang diberikan.
2. Pencarian Pemeran Kefas dan Boni yang Tersulit
Beberapa karakter dalam film ini memiliki proses casting yang cukup rumit. Salah satunya adalah karakter Kefas dan Boni. Untuk Kefas, Sim F mencari aktor yang mampu memerankan versi remaja dari dirinya sendiri. Ia akhirnya menemukan Millo Taslim setelah melihat video casting dari film sebelumnya.
"Sampai pada satu waktu, seorang teman ngasih lihat video casting dari film Millo yang sebelumnya. Pas dilihat, 'Wah oke juga, ya'. Akhirnya aku penasaran, minta Bunda Nanda buat manggil screen test lah. Kita screen test sama Millo sampai tiga kali," jelas Sim F.
Di sisi lain, pencarian pemeran untuk karakter Boni juga tidak mudah. Sim F membutuhkan anak laki-laki dari Timur berusia 5 tahun yang digambarkan sebagai si bungsu di panti asuhan. Halim Latuconsina akhirnya dipilih setelah menunjukkan kemampuan beradaptasi dengan baik.
3. Cara Membuat Kefas Remaja dan Dewasa Terlihat Mirip
Salah satu hal yang membuat penonton terkesan adalah kemiripan antara Kefas remaja dan dewasa. Sim F menjelaskan bahwa ia fokus pada pengolahan Kefas remaja terlebih dahulu. Setelah itu, Fendy Chow yang memerankan Kefas dewasa diminta untuk bertemu dengan Millo Taslim agar bisa belajar cara bicara dan gestur yang mirip.
"Fendy Chow luar biasa profesional. Dia mempelajari cara jalannya Millo. Gesturnya, cara ngomongnya. Fendy Chow meminta Millo untuk bacain dialognya Kefas dewasa," tambah Sim F.
Meski keduanya memiliki perbedaan, penonton tetap merasa keduanya sama-sama layak memerankan karakter Kefas.
4. Inspirasi dari Kisah Pribadi
Ide cerita Surat Untuk Masa Mudaku (2026) terinspirasi dari kisah pribadi Sim F yang pernah tinggal di panti asuhan. Ia bekerja sama dengan Daud Sumolang, sang script writer, selama proses pembuatan premis hingga naskah.


