
Film Children of Heaven versi Indonesia yang digarap oleh sutradara ternama Hanung Bramantyo menjadi salah satu tontonan menarik yang ditunggu-tunggu selama momen libur Lebaran Idul Adha 2026. Film ini menghadirkan kisah tentang kemiskinan yang disajikan dengan penuh perjuangan dan kepedulian.
Diproduksi oleh MD Pictures, film Children of Heaven akan mulai tayang di bioskop-bioskop seluruh Tanah Air pada 27 Mei 2026. Cerita yang dibawakan dalam film ini sangat emosional, penuh pengorbanan, serta memperlihatkan hubungan kemanusiaan yang kuat antar tokoh. Bagi penggemar film drama keluarga, Children of Heaven bukan sekadar sebuah remake biasa. Film ini diadaptasi dari karya klasik sutradara Iran, Majid Majidi, yang sebelumnya telah menjadi film box office dan masuk nominasi Oscar dalam kategori Best Foreign Language Film pada tahun 1998.
Meskipun berbeda dalam versi Indonesia, Children of Heaven tetap mempertahankan esensi cerita aslinya, namun dikemas lebih dekat dengan budaya lokal dan kehidupan masyarakat Indonesia. Film ini mengikuti kisah Ali dan Zahra, dua kakak beradik dari keluarga sederhana yang tinggal di tengah keterbatasan ekonomi. Konflik bermula ketika sepatu sekolah Zahra hilang tanpa sengaja oleh Ali. Untuk tidak memberatkan orang tua mereka yang sedang kesulitan, Ali dan Zahra sepakat menggunakan sepatu secara bergantian saat pergi ke sekolah. Kebetulan, jadwal sekolah Ali dan Zahra berbeda.
Meski konfliknya terasa sederhana, yaitu tentang sepatu, film ini justru menunjukkan kekuatan hidup yang luar biasa. Penonton diajak untuk merasakan perjuangan dua anak kecil yang berusaha menjaga harga diri di tengah tekanan ekonomi keluarga.
Review Film Children of Heaven: Cerita Hangat dan Menyentuh Hati
Salah satu kekuatan utama dari Children of Heaven adalah kesederhanaan ceritanya. Sutradara Hanung Bramantyo tidak mencoba membuat drama yang berlebihan hanya untuk memancing air mata penonton. Sebaliknya, film ini hadir dengan pendekatan yang hangat, dekat, dan manusiawi.
Film ini mengambil setting era 1980-an, yang berhasil dihadirkan dengan rasa autentik yang kuat. Setting waktu tersebut membuat konflik tentang sepatu sekolah terasa lebih relevan dan emosional. Pada masa itu, sepatu bukanlah barang biasa, melainkan seperti barang mewah bagi banyak keluarga yang hidup di ambang batas kemiskinan.
Selain cerita yang kuat, kekuatan lain dari film ini terletak pada akting dua pemain anak yang sangat bagus. Jared Ali memerankan karakter Ali, sedangkan Humaira Jahra memerankan Zahra. Chemistry keduanya mampu memberikan nyawa pada cerita film ini. Kepolosan dan emosi alami yang mereka tunjukkan membuat penonton mudah terhubung dengan alur cerita saat menonton.
Selain itu, film ini juga terlihat segar dengan hadirnya sejumlah nama besar seperti Muhadkly Acho, Dodit Mulyanto, Oki Rengga, hingga Lolox. Mereka membantu memperkaya narasi film dan memberikan nuansa yang lebih kaya.