
Program Anak Asuh di SBT Mulai Berdampak Nyata
Program Anak Asuh yang berlangsung di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) mulai menunjukkan dampak nyata dalam upaya penanganan stunting. Pada hari Kamis (14/5/2926), tim pelaksana program ini menunjukkan bahwa pendekatan yang dilakukan tidak hanya fokus pada pemberian nutrisi tambahan, tetapi juga memperhatikan kondisi lingkungan tempat tinggal anak-anak penerima manfaat.
Salah satu langkah penting yang dilakukan adalah perbaikan rumah warga yang dinilai tidak layak huni. Hal ini dilakukan setelah tim menemukan satu kasus anak asuh dengan kondisi yang cukup memprihatinkan di Desa Waisamet, Kecamatan Bula Barat. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) SBT, Warda Rumadan, menjelaskan bahwa kebutuhan anak tersebut tidak hanya terbatas pada makanan tambahan, tetapi juga lingkungan yang sehat.
“Kami turun langsung dan melihat anak ini bukan hanya membutuhkan nutrisi, tapi juga lingkungan yang sehat. Kalau hanya diberi makanan tambahan sementara rumahnya tidak layak, proses pemulihannya akan sulit,” ujarnya.
Program Anak Asuh telah disosialisasikan sejak Desember 2025 dan mulai berjalan efektif pada Januari 2026. Dalam pelaksanaannya, tim menemukan beberapa persoalan yang memengaruhi pemulihan anak stunting, seperti kondisi rumah yang lembab dan sanitasi yang kurang memadai. Temuan ini kemudian ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Maluku dan sejumlah instansi terkait.
Bantuan non-nutrisi yang terkumpul berasal dari Inspektorat, tim program, hingga PTSP dan disalurkan dalam bentuk bahan bangunan untuk memperbaiki rumah penerima manfaat. Warda menjelaskan bahwa semua bantuan diberikan dalam bentuk material seperti pasir, kayu, triplex, semen, sampai spring bed. Tidak diberikan dalam bentuk uang.
“Semua bantuan kami belikan langsung dalam bentuk material seperti pasir, kayu, triplex, semen, sampai spring bed. Tidak diberikan dalam bentuk uang,” katanya.
Proses perbaikan rumah nantinya dilakukan secara swadaya oleh masyarakat desa setempat. Tim program juga turun langsung ke lokasi untuk memastikan seluruh bantuan diterima tepat sasaran oleh keluarga penerima manfaat.
Warda menilai pendekatan menyeluruh menjadi langkah penting agar penanganan stunting di SBT tidak hanya bersifat sementara. Ia menegaskan bahwa jika lingkungan tempat tinggal anak tetap tidak sehat, maka pemulihannya akan terhambat. Karena itu, rumahnya juga harus dibenahi.
Program Anak Asuh SBT sendiri ditargetkan menyasar sejumlah titik lain di wilayah SBT dan akan terus diperluas berdasarkan hasil pendataan di lapangan. Ia berharap kolaborasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, kecamatan, hingga pemerintah desa terus diperkuat untuk mendukung percepatan penanganan stunting di daerah tersebut.
Langkah-Langkah yang Dilakukan dalam Program Anak Asuh
- Penyediaan nutrisi tambahan untuk anak-anak yang mengalami stunting.
- Pembenahan lingkungan tempat tinggal anak penerima manfaat.
- Perbaikan rumah warga yang tidak layak huni.
- Koordinasi dengan pemerintah provinsi dan instansi terkait.
- Pemilihan bantuan dalam bentuk material, bukan uang tunai.
- Partisipasi masyarakat dalam proses perbaikan rumah.
- Evaluasi dan peningkatan jumlah titik yang disasar dalam program.